Jasa pembuatan sumur bor, artesis, submersible oleh tenaga-tenaga ahli dan berpengalaman dibidangnya.

Peran DTLGKP Dalam Pengeboran Air Tanah Dangkal Di Banda Aceh Dan Sekitarnya

Peran DTLGKP Dalam Pengeboran Air Tanah Dangkal Di Banda Aceh Dan Sekitarnya


1. PENDAHULUAN

Gempa bumi dengan kekuatan 8,9 skala Richter disusul dengan tsunami yang mencapai lebih dari 5 kilomenter kearah daratan yang menimpa daerah Aceh dan Sumatera Utara pada hari Minggu, 26 Desember 2004, telah mengakibatkan kerusakan yang sangat besar serta ratusan ribu orang meniggal dunia. Sedangkan yang masih hidup tidak mempunyai tempat tinggal lagi dan terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Kejadian yang mendadak dan tidak terduga ini, memaksa pengungsi menempati lokasi seadanya dengan fasilitas sangat terbatas. Lokasi pengungsian ini sebelumnya merupakan sarana umum seperti stasiun TVRI, Gedung social, Mesjid, Gedung Sekolah dan fasilitas social lainnya., sehingga prasarana dan sarana tidak memenuhi syarat sebagai tempat pengungsian, salah satunya sarana yang bersih.

Sebagai wujud kepedulian DESDM melalui Direktorat Tata Lingkungan Geologi dan Kawasan Pertambangan, Dit Jen GSDM melalui suratnya No.07/40/DTG/2005 merencanakan bantuan sarana air bersih untuk korban gempa bumi dan Tsunami di daerah Aceh dan Sumatra Utara, melalui pembuatan sumur pasak atau sumur bor dangkal sebanyak 100 buah (surat terlampir). Untuk tahap pertama telah dilakukan pembuatan sumur bor dangkal dengan diameter 4 inc sebanyak 8 buah dilengkapi dengan pompa jetpump, bak air serta tiang penyangganya, yang tersebar dilokasi pengungsian Banda Aceh dan Aceh Besar.

Bantuan sarana air bersih ini dimaksudkan untuk membantu mengatasi kesulitan akan air bersih terutama dilokasi pengungsian, dengan tujuan agar para pengungsian, dengan tujuan agar para pengungsi mendapatkan air yang layak untuk bahan baku air minum, MCK, maupun keperluan lainnya.

2. PEMILIHAN LOKASI

Untuk mengetahui lokasi pengungsian yang membutuhkan sarana air bersihl, pertama kali tim menghubungi Dinas Perkotaan Dan Pemukiman, Pemerintah Profinsi Nangroe Aceh Darusalam, dan mendapatkan 5 lokasi pengungsian, yaitu TVRI Geu Gajah Katai, Gedung Sosial, Masjid Unsyiah Darusalam, Masjid Lampeuneurut dan Masjid Ulee Kareng. ( surat terlampir)

Berdasarkan keterangan tersebut, maka tim melakukan pengamatan lapangan dan mewawancarai pengungsi setempat apakah betul-betul membutuhkan sarana air bersih.
Dari hasil pengamatan dan wawancara, diketahui bahwa di Masjid Lampeneurut sudah cukup air bersih, sedangkan di Masjid Darussalam pada saat peninjauan sedang dilakukan pengeboran dalam oleh Perusahaan Pembangunan (PP), sehingga dua lokasi dipindahkan Kp. Bung Bakjok, Kec. Kuta Baro, Krueng Raya Malahayati dan rumah pribadi wakil Gubenur (atas permintaan Wagub, karena dirumahnya setiap hari digunakan untuk menginap tamu-tamu dari Jakarta sampai 50 orang, sehingga setiap hari harus dikirim air sebanyak kurang lebih 8000 liter oleh PDAM).

Berdasarkan hsil wawancara dengan pengurus tiap pengungsi didapatkan data : Halaman TVRI Geu Gajah dihuni 4000 orang, gedung social dihuni 3500 orang, mesjid Ulee Kareng dihuni 3000 orang. Kp. Bung Bakjok dihuni 3000 orang, dan Krueng Raya dihuni 3000 orang pengungsi

3. HASIL PENGEBORAN

Setelah dilakukan seleksi lokasi pengeboran, maka dilakukan pengeboran dengan informasi sebagai berikut :
1. Di halaman Gedung Sosial Jl. Cik Ditiro Banda Aceh dilakukan pengeboran sebanyak 2 (dua) sumur bor, dengan diameter 4 inc, kedalaman akuifer yang disadap 6-12 m.bmt (m bawah muka tanah setempat), air tanah jernih tak berbau, tak berasa daya hantar listrik 400 mikro mhos dan 900 mikro mhosm dengan debit 40 liter per menit.
2. Di halaman belakang TVRI Geu Gajah, Mata Ie Aceh Besar dilakukan pengeboran sebanyak 2 (dua) buah, dengan diameter 4 inc, kedalaman berasa, daya hantar listrik 350 mikro mhos dan 900 mikro mhos, dengan debit masing-masing 351/mt.
3. Di Masjid Baitul Solihin Ulee Kareng pengeboran sebanyak 1 buah, dengan kedalaman akuifer yang disadap 6-12m.bmt, air tanah jernih tak berbau, tak berasa, daya hantar listrik 400 mikro mhos, dengan debit 101/mt.
4. Di Krueng Raya Malahayati pengeboran dengan diameter 4 inc, akuier yang disadap 10-18m.bmt, air tanah jernih tak berbau, tak berasa, daya hantar listrik 400 mikro mhos, dengan debit 101/mt.
5. Di lokasi Kp. Bung Bak Jok akuifer yang disadap 6-10 m.bmt, air tanah jernih tak berbau, tak berasa, daya hantar listrik 250 mikro mhos, debit 401/mt.
6. Di rumah pribadi wakil Gubernur, akuifer yang disadap 6-12 mbmt, air tanah jernih tak berbau, tak berasa, daya hantar listrik 350 mikro mhos, dengan debit 401/mt.

4. KESIMPULAN

1. Pembangunan sarana air bersih melalui mengeboran air tanah guna membantu para korban bencana gempa bumi dan tsunami pada tahap pertama telah selesai dilakukan di 6 (enam) lokasi pengungsian di Banda Aceh (sebanyak 8 sarana air bersih).
2. Sebagian air tanah hasil pengeboran di Ulee Kareng dan Bung Bak Jok langsung dipasang alat penjernih dari Pemerintah Turki dan PT. Bintang Mandiri Perkasa (salah satu donatur di Jakarta) sehingga dapat langsung di minum.
3. Air tanah yang dihasilkan dari pembangunan saran air bersih tersebut sangat membantu mengatasi kesulitan air bersih para korban bencana yang berada di lokasi pengungsian setempat.

5. SARAN-SARAN

1. Mengingat masih banyak para korban bencana di berbagai lokasi pengungsian yang membutuhkan air bersih, maka rencana pembangunan saran air bersih dari pemanfaatan air tanah perlu dilanjutkan, baik di Banda Aceh maupun dilokasi yang terkena bencana lainnya seperti Melauboh, Aceh Jaya.
2. Pembuatan sumur pasak atau sumur dangkal sangat membantu, karena waktu pelaksanaannya singkat sehingga air tanah dapat segera dimanfaatkan utnuk memenuhi kebutuhan air bersih.
3. Untuk pengeboran selanjutnya disarankan agar memakai mesin kecil yang mudah dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, karena dibeberapa tempat bantuannya cukup keras dan padu.





Oleh : Ir. Djoko Warsito & Ir. Fauzi Maimun (Staf Ahli Hidrogeologi - DTLGKP)

1 komentar:

Kata-kata Hikmah..! Jelang Pemilu, Jangan Golput ! Di Pemilu 2009